Oleh :
MUSTOFA ANWAR
A. Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai sumber otentik ilahiyah yang menjadi pedoman hidup umat manusia dan mengatur segala aspek kehidupan yang tak usang oleh perkembangan zaman, menunjukan kesakralan dan kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Di lain sisi, luasnya cakupan yang diatur dalam Al-Qur’an tidak sebanding dengan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri, karenanya tidak semua persoalan diatur secara rinci dalam Al-Qur’an, akan tetapi tidak sedikit dari masalah-masalah tersebut yang hanya diatut secara garis besarnya saja.
Disini peran tafsir dan ta’will sangatlah dominan, guna mengetahui makna sesungguhnya yang dimaksud di dalam suatu ayat. Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, yang memiliki kewenangan dalam menafsirkan ayat-ayat Tuhan adalah beliau sendiri, sebagai orang kepercayaan Tuhan. Akan tetapi, ketika Muhammad SAW meninggal dunia dan kekuasaan Islam semakin meluas, dengan demikian interaksi budaya antar suku bangsa yang berbeda tidak dapat dielakkan.